Lain Zaman, Lain Cerita

on Senin, 31 Maret 2014
Nama saya Nur Fadly, sering di panggil Fadly. Waktu saya masih Sekolah Menengah Pertama (SMP), saya sering di panggil BEBEK, entah apa yang membuat panggilan itu melekat hingga saat ini, entah cerewet atau apa.

Ketika saya bertemu dengan teman-teman se-letting di SMP entah itu di jalan atau berpapasan saat bertemu di Mall, ia selalu memanggilku dengan sebutan BEBEK.

Lain halnya saat ku beranjak dari SMP ke SMA, ku mulai memiliki nama panggilan baru.

Awal ceritanya begini. . .

Waktu itu lagi musim-musimnya dengan jejaring sosial Facebook. Awalnya saya tidak tertarik bermain Facebook bukan karena malas ataupun tidak tau memainkannya, tetapi ketika saya melihat Juni (nama samaran) ikut main Facebook, saya pun lalu mencoba membuat akun.

Tidak tahu kenapa nama Facebook pertamaku itu "Shawn Fhadly Milke", yah saya memang mengidolakan sesorang bernama Shawn Milke dan ingin mengikutinya.

Sejak itulah saya di panggil Milke oleh teman-teman sekelasku. Awalnya agak memalukan tetapi karena keseringan di panggil begitu yah mau di apa lagi.

Sampai-sampai, (bukannya sombong) semua teman letting di SMA ku mengenalku dengan panggilan Milke.

Akibat menaksir wanita, eh malah dapat panggilan baru.

-----

Kehidupan saya tak pernah jauh dari kesialan, kenapa sial ? Orang-orang mungkin bertanya.

Yah, tak dapat di pungkiri manusia pasti perna merasakan jatuh cinta. Hal itulah yang sering terjadi.

Pernah saya menyukai wanita bernama Juni (nama samaran), yah kalau dipikir-pikir wanita itu hanyala wanita biasa, pendek tapi lucu. Entah dimana letak lucunya. Akibatnya saya harus menghabiskan 3 tahun umurku hanya untuk bisa dekat, hanya dekat.
Seperti terkurung dalam kotak penuh tentang dirinya.

Sampai akhirnya ia lalu berpacaran dengan orang yang tidak saya sangka-sangka.

Walaupun begitu saya tak perna menyerah, tak menyerah atau tak bisa move on. Beda tipis sih.

Ada hal yang tak bisa ku lupa dari dia. Bukan karena saya perna mendapatkannya, tetapi pada saat selesai UN saya memberanikan diri untuk meminta tanda tangganya.

Saya pun terkejut ketika ia mau menulis di baju SMA ku. Tetapi yang namanya sial tidak bisa dihindari. Baju yang telah ditanda tanganinnya itu di ambil paksa oleh guru BK ku, entah apa yang salah tetapi hingga detik ini baju itu masih berada di tanggannya. Entah di kemanakan baju ku itu.

Hingga saat ini saya sudah tak perna lagi melihat dia. Bukan karena tidak ada usaha untuk bertemu. Tetapi saya malu menampakkan wajah ini di hadapannya.


0 komentar:

Posting Komentar