Cinta Yang Tepat, Di Waktu Yang Salah

on Jumat, 04 April 2014
(Int)


July, Selalu ingat kutipan “Cinta itu hadir karena terbiasa bertemu”,

Ia mulai bergegas menyalakan motornya, sembaring mengeluarkan Handphonenya dari saku celana.   Di kampus July jarang mengikuti perkuliahan, ia lebih senang duduk dibawah pohon sembaring mendengarkan Musik dari Handphonenya, terkadang July sering tertidur karena keenakan mendengarkan alunan musik yang keluar dari earphonen.
Sekilas tak ada yang berbeda dari hari-hari sebelumnya, sebelum seorang Wanita berambut hitam dengan lesung pipi di wajahnya, berjalan di depannya.  Wanita itu tak sendiri, iya bersama kedua temanya. July hanya bisa termenung melihatnya, tak ada kata yang bisa ia ucapkan.

Keesokan harinya, July, kembali ke bawah pohon tempatnya sering menghabiskan waktu dan berharap dapat bertemu kembali  dengan wanita yang kemarin ia lihat. karena terlalu lama menunggu July mulai bosan. hingga sore menjelang, tak ada tanda-tanda wanita itu akan datang, July pun merapikan  buku-buku yang ia baca dan memasukknanya ke dalam tas, dan bergegas untuk pulang.

July berjalan sambil mengeluarkan Earphone di dalam saku celanannya, dan berniat untuk mendengarkan musik. Sambil mendengarkan musik ia tak sadar bahwa wanita yang ia tunggu-tunggu berjalan ke arahnya.  dalam sekejap wanita itu melewatinya dan dengan asyiknya, juli tak memperhatikannya.

Sesampainya dirumah, July langsung melemparkan tasnya dan membuka pintu balkon  kamarnya, ia mengambil handuk yang ia jemur. hari ini ia memiliki janji untuk bertemu  dengan seorang yang sudah lama di tak jumpai Handphone yang berada di atas tempat tidurnya pun berbunyi, telpon itu dari April,  teman se-waktu ia masih SMA dulu. July pun keluar dari kamar mandinya dan melihat Handponenya, ia melihat panggilan keluar itu dari April, tanpa pikir panjang ia lalu  mengeluarkan pakaian dari lemari dan bergegas.

Cafe Nostalgia. April, sudah lebih dulu tiba dibanding dengan July, ia tak suka dibuat  menunggu dan memilih untuk memesan secangkir capucinno hangat. April menikmatinya perlahan sambil memperhatikan sekeliling. April pun mulai bosan dan memilih untuk  menghabiskan Capucinnonya, tak lama berselang July menepuk pundak April dari belakang. tak heran April pun kaget dan sontak menoleh ke belakangnya. July sangat senang bertemu April, sahabat yang sudah  lama tak ia jumpai. April memilih kuliah jauh dari kampung halamanya dan mulai jarang untuk kembali sebab ia terlalu sibuk.

Sepanjang malam kami habiskan untuk saling menukar cerita, tak ada tanda-tanda kelelahan dan habis bahan cerita. mungkin kami berdua baru bertemu lagi. dan April mengatakan hal yang tak perna ku sangka-sangka. April memutuskan Untuk kembali di Kampung dimana ia besar. hal ini membuatku terkejut dan bertanya kenapa April memilih untuk menetap disini. tetapi April belum mau menjawab alasannya.
Waktupun terus berjalan dan tak terasa sudah pukul 04.00 dini hari kami memutuskan untuk mengakhiri pertemuan ini.

Di rumah, July tak langsung tidur ia malah memutuskan untuk menunggu matahari menampakkan sinarnya sembaring menikmati segelas kopi yang ia buat sendiri.
Kantung Mata yang menghitam menghiasi pagi July. ia memilih untuk masuk mengikuti perkuliahan Filsafatnya. tetapi tak lama dosennya bercerita ia malah tidur dengan pulasnya. tak seorangpun berani membangunkannya. July satu-satunya Mahasiswa yang telah mengulangi Mata Kuliah ini sebanyak 3 kali.

Sehabis jam kuliah, July tak langsung pulang kerumah. ia memutuskan untuk makan siang di kantin sendiri. di kantin ia memilih membaca buku sembaring mendengarkan musik. tiba-tiba seorang wanita menghampirinya. July spontan kaget, dan mempersilahkannya duduk. suasana kantin saat ini sangat penuh, hampir tak ada tempat kosong lagi.

Wanita itu adalah wanita yang ia lihat saat di taman. July tak berani menatapnya dan memilih menunduk. wanita itu lalu memperkenalkan namanya, " kenalkan saya Juni saya mahasiswa Jurusan Ekonomi," juli pun dengan nada canggung membalasnya, "oh, saya july", Juni pun tersipu malu saat berkenalan dengan July.

Mulai sejak itu July dan Juni saling bertukar nomor dan tak seharipun yang ia lewatkan tanpa saling mengirim Pesan Singkat. sekedar mengakrabkan. tak jarang July mengajakya untuk keluar menikmati Malam di hari sabtu, yang menurut orang malamnya anak muda.

Waktupun berlalu tanpa ia sadari, July memasuki masa masa Skripnya untuk menyelesaikan kuliahnya, ia berencara untuk mengatakan cintanya ke Juni. Ia lalu mengajak Juni ke suatu Café, Juni tanpa ragu mengikuti ajakan July.
Sesampainya disana, keduanya duduk di lantai dua Café tersebut.  Keduanya bercerita tentang hari ini, sambil saling menatap satu sama lain. July lalu berjalan ke di atas panggung, Juni pun kaget. July mengambil gitar dan mengetes suara gitar. Juni hanya bisa terdiam menyaksikan July.

July lalu memetik gitarnya sambil mengatakan, “Lagu ini Kunyanyikan untuk wanita Spesial”, sambil tersenyum ke arah Juni.

July menyanyikan lagu yang berjudul Way Back Into Love, ia sudah mempersiapkan seminggu sebelum ia tampil. Juni terpesona melihat July memainkan Aluna musik yang ia iringi dengan petikan Gitar Acoustik. Sebelum ia kembali ke tempat July mengeluarkan sekuntum bunga mawar merah yang ia bawah dan berjalan ke arah Juni, tak lekang Juni pun kaget entah apa yang ia pikirkan. July lalu memegang tangan kanan juni sambil mengatakan, “Juni maukah kau jadi pacarku?,” ungkap July sambil tersenyum malu.
Juni tak habis pikir, perasaanya bercampur aduk, antara bahagia dan malu.
July hanya mampu menatap mata Juni.
Juni lalu berkata, “iya”, pipinya memerah dan senyumannya begitu terpancar di wajahnya.

……………………………..

Setelah July telah Lulus dari bangku perkuliahan. ia lau berfikir untuk pergi merantau. tanpa memberi tahukan kepada Juni terlebih dahulu. July terburu-buru dan mempersiapkan seluruh barang bawaanya dan bergegas untuk berangkat. tetapi July melupakan Handphone yang ia charge.

Setiap Malam, July selalu menelponnya jika jam makan malam sudah selesai. sampai sehari sebelum July pergi ia masih sering menelpon, akan tetapi di hari itu July tak menelponnya. Juni pun merasa ada sesuatu yang aneh. ia lalu mengutuskan untuk menelfon July. 14 kali Juni menelfon July tetapi tak ada tanda-tanda ia akan mengangkatnya. 3 haripun berlalu tanpa ada kabar dari July.

Juni pun memutuskan untuk mendatangi kediaman July yang letaknya tak jauh dari tempatnya berada. sesampainya disana ia tak melihat tanda-tanda adanya orang didalam. Juni mencoba mencari tahu kemana July pergi, tetapi tak menemui titik terang.
Sudah hampir 2 tahun sejak July Pergi. July pun kiembali dan langsung mendatangi July di rumahnya. July mengetuk pintu rumah perlahan. awalnya tak ada tanggapan sampai pintunya perlahan terbuka. dan yang ia jumpai ialah April.

July spontan kaget dan bertanya-tanya, mengapa April ada disini.

April pun tertawa terbahak-bahak melihat July.

Dari dalam keluarlah Juni sambil mengendong seorang bayi.

July lalu terdiam tanpa bisa berkata-kata.

April pun memperkenalkan istrinya ini. saat itu Suasana hati July sangat kacau ia tak menyangka bahwa April adalah suami Juni.

Juni tak mampu menapat mata July lebih lama lagi, Juni memutuskan masuk ke dalam kamarnya sabil meneteskan air matanya.


Sekian..........



0 komentar:

Posting Komentar