July di Bulan Juni (Part I)

on Minggu, 30 Maret 2014
(Int)
PART I

Suasana kamarku masih gelap tidak ada sinar cahaya matahari pagi yang masuk. Bunyi telepon genggam berbunyi membangunkan yang berada tepat di sebelah kananku. Aku—Juli, terbangun tepat pukul 06.45 pagi. Telepon itu dari ketua tingkatku yang menyuruh untuk ke kampus. Tak ingin menyia-nyiakan waktu, ku bergegas untuk ke kampus hanya mandi seadanya, sikat gigi, pakai shampo dan cuci muka. Kebiasaan yang sering ku lakukan jika ke kampus pagi hari.



Sepanjang perjalanan ku nikmati sambil memakan roti yang sudah disediakan oleh ibuku sebelum berangkat.
Cuaca yang sangat bagus tak berawan.

Sesampaiku di kampus ku tak langsung masuk ke kelas, ku selalu memperhatikan penampilanku dulu sebatas memperbaiki rambut yang acak-acakan akibat helm yang menutupi sebagian kepalaku. Seperti biasa, motor yang kugunakan ke kampus selalu ku parkir di Fakultas Psikologi. Ketika ku berjalan, ku melihat beberapa mahasiswa yang menggunakan jas almamater berjalan tepat di belakangku. Semuanya tampak biasa saja, tetapi ada seorang wanita yang tidak asing bagiku dan membuatku sangat ingin mengenalnya lebih jauh lagi.

Wanita asing itu bernama Juni, usianya lebih muda dibandingkan denganku. Umurnya masih 18 tahun, dan 9 Juni nanti ia akan merayakan ulang tahunnya yang ke 19, sebuah kebetulan tanggal lahirku sama dengannya hanya dibedakan oleh bulan yang berbeda. Ku hanya mengenalnya dengan panggilan Juni, wanita yang sering disebut-sebut oleh teman kelasku, entah mengapa aku juga tertarik dengan wanita itu.

Ia sering melintasi fakultasku, sembari mengikuti kuliah yang ruangannya berada di lingkungan fakultasku. Sejak itu ku sering memperhatikannya dari kejauhan. Aku juga sering melihatnya bertemu dengan teman kelasku yang bernama Abe. Ku pernah membaca sebuah tulisan, bahwa cinta itu hadir karena terbiasa bertemu. Entah apa yang mendasari hal tersebut.

Biasanya sehabis kuliah atau ada waktu jeda kuliah, ku sempatkan untuk ke kantin, tepat berada di dalam lingkungan Fakultas Psikologi. Kantin itu sering dipadati oleh mahasiswa lain entah dari mana ia berasal. Sekilas tampak seperti biasa, mahasiswa datang dan pergi sembari hanya makan atau minum es teh manisnya Dangkul.

Tak lama berselang, Juni tiba tiba muncul dari arah depan kantin bersama ketiga temannya yang entah siapa namanya. Perasaan ku mulai deg-degan saat ia melintas tepat di samping tempatku duduk. Ia duduk di arah jam 11, posisi yang membuatku bisa memperhatikannya dengan dekat. Ia memesan segelas es teh dan menikmatinya, Ini membuatku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini untuk melihatnya dengan dekat, perasaanku berdetak lebih kencang lagi saat ia juga memperhatikanku, mungkin hanya perasaanku saja yang mengatakan itu atau apalah. Kesempatan yang tidak dapat diulang kembali untuk bisa berkenalan dengannya. Tetapi apa yang di inginkan tak semudah membalikkan telapak tangan, ku sangat malu untuk menghampirinya bersama ketiga temannya, ku berjalan kembali ke ruangan tempatku kuliah dengan rasa penuh penyesalan yang sangat besar menyelimuti pikiranku seakan marah kepada diriku sendiri. Sepanjang jalan ku hanya merenung tak bisa berbuat apa-apa, tapi Riska, teman sekelasku berbaik hati untuk membantuku meminta nomor teleponnya, ku pun menunggunya di depan ruang kelas.

Tak lama kemudian ia pun datang, ku pun bertanya kepadanya, “kau dapatji nomornya Juni?”, ungkapku.

Ia pun mengatakan, “iya saya dapatji, catat mi nomornya,” tuturnya. Rasa bahagia pun seakan meluap-luap bagai gunung yang meletuskan asap vulkaniknya

Selesai kuliah, sembari hanya tertidur di rumah, ku pun terpikirkan untuk keluar menikmati indahnya malam sambil mencari waktu yang tepat untuk memulainya, entah kemana angin akan membawaku. Tanpa pikir panjang, ku pun bergegas.

Sampailah ku di sebuah café yang jaraknya sangat jauh dari tempatku tinggal, butuh waktu 45 menit untuk sampai kesana. Entah apa yang membuatku bisa sampai ke sana. Suasana café-nya begitu sepi, tempat yang tepat menghabiskan malam. Awalnya ku deg-degan, untuk memulai tapi ku beranikan diri untuk mengirimkan pesan singkat yang isinya, “Halooo”, tulisku.

Sambil menunggu ia membalas pesan singkatku, ku nikmati kopi hitam yang baru saja diantarkan oleh pelayan café, kopi yang hitam pekat sehitam malam yang tak ditaburi oleh senyuman wanita yang kukirimi pesan. Tak lama berselang handphone ku pun berbunyi. Ya, pesan singkat itu dari Juni, perasaanku sudah tak karuan senangnya. Seperti apa balasannya?

“Siapa ini?” Dua kata balasan yang berujung pada tanda tanya.

Kemudian ku segera membalas pesannya, “Saya July, yang tadi siang sama-sama di kantin.”

“…”

Dia tentu masih kesulitan mengingat-ingat setiap orang yang ditemuinya di kantin, aku memahaminya. Kantin itu memang terlalu ramai untuk mengingat setiap wajah yang entah sekadar berkumpul bersama teman, atau bersantap siang. Untuk lebih memudahkan saling mengenal, aku bertukar akun twitter. Selepas itu, pesan-pesan singkat dan banyak mention saling berbalas antara kami. Aku senang dengan situasi ini.

Dengan gencarnya, melalui komunikasi tidak langsung itu, aku terus melakukan “pendekatan” dengan Juni. Dua pekan, ia pun seakan membiarkanku terus mengambil langkah lebih banyak mendekat dengannya. Tidak banyak yang bisa kulakukan selain bertutur lewat pesan singkat atau twitter.

Meskipun seringkali aku tidak sengaja bertemu di kampus, seringkali pula hanya saling berbalas senyum tanpa ada kata yang terlontarkan. Begitupun sudah cukup membuatku menjadi manusia paling berbahagia sedunia, aku menjamin.



Bersambung...............

0 komentar:

Posting Komentar